Kamis, 21 Januari 2010

tugas UAS Urgensi Pendidikan akhlak bagi remaja

URGENSI PENDIDIKAN AKHLAK BAGI REMAJA

MAKALAH

Diajukan sebagai salah satu tugas
Mata kuliah Tekhnik Penulisan Karya Ilmiah

Dosen Pembimbing : Mulyawan S. Nugraha, , M.Ag, M.Pd








Disusun Oleh :
Irda Winiar
NIM.0891.01.1048

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SUKABUMI (STAIS)
Jl. Veteran I No. 36 Telp. (0266) 225 464
SUKABUMI
2009

BAB I
PENDAHULUAN
1. LATARBELAKANG MASALAH
Remaja adalah asset berharga untuk menggapai sebuah Negara yang kuat. Ada peribahasa arab yang mengatakan “Remaja adalah pemimpin di masa depan”. Dengan itu kita ketahui bahwa kunci masa depan terletak di tangan remaja.Sebagai calon pemimpin, remaja dituntut memiliki pemikiran yang cerdas serta sikap atau akhlak yang baik.
Dewasa ini, bukan rahasia umum lagi bahwa remaja kita banyak dipengaruhi oleh globalisasi. Globalisasi menurut mereka adalah dimana mereka dengan bebas melakukan apapun yang mereka ingin lakukan. Pada masa remaja inilah manusia selalu ingin mencoba hal-hal baru, tidak penting itu baik atau buruk bagi mereka; cukup dengan penilaian bahwa mereka tidak ketinggalan zaman. Sehingga banyak dikalangan remaja terjerumus pergaulan bebas,diantaranya pemakaian obat-obatan terlarang hingga melakukan seks bebas.
Ironis memang, tetapi inilah kenyataan objektif dalam kehidupan dikalangan remaja. Tentu saja masalah ini tidak berdiri sendiri, tetapi banyak faktor yang menjadi penyebabnya, yang antara lain karena keluarga yang broken home, kurangnya pendidikan agama, miskinnya pendidikan akhlak, atau karena kesalahan memilih teman.
Pembentukan budi pekerti yang baik adalah tujuan utama dalam pendidikan Islam. Karena dengan budi pekerti itulah tercermin pribadi yang mulia, sedangkan pribadi yang mulia itu adalah pribadi yang utama yang ingin dicapai dalam mendidik anak dalam keluarga. Namun sayangnya, tidak semua orang tua mampu melakukannya.

Oleh karena itu, pendidikan akhlak bagi remaja harus diberikan kepada para remaja agar mereka tidak salah melangkah dan mempunyai fondasi yang kuat dalam pemahaman mereka untuk meraih masa depan mereka dan bisa memberikan yang terbaik bagi agama dan Negara.

2. RUMUSAN MASALAH
1. Apa konsep dari pendidikan Akhlak ?
2. Apa konsep dari remaja itu ?
3. Bagaimana bentuk karakteristik remaja ?
4. Faktor apa saja yang mempengaruhi akhlak remaja?
5. Apa urgensi pendidikan akhlak bagi remaja ?

3. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui konsep mengenai pendidikan Akhlak.
2. Untuk mengetahui konsep mengenai remaja.
3. Untuk menganalisa bentuk karakteristik remaja.
4. Untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi akhlak remaja.
5. Untuk menjelaskan urgensi pendidikan akhlak bagi remaja.

4. SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam makalah ini penulis akan membahas masalah-masalah yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Adapun sistematika penulisan makalh ini meliputi tiga bab, yaitu :
BAB I : Pendahuluan , akan membahas tentang latarbelakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, sistematika penulisan.
BAB II : Urgensi Pendidikan Akhlak bagi Remaja, akan membahas tentang konsep pendidikan akhlak, konsep remaja, karakteristik masa remaja, factor yang mempengaruhi akhlak remaja, pengaruh pendidikan agama terhadap akhlak remaja, serta urgensi pendidikan akhlak bagi remaja.
BAB III: Penutup, akan membahas mengenai simpulan dan saran.

BAB II
URGENSI PENDIDIKAN AKHLAK BAGI REMAJA
1. Konsep Pendidikan Akhlak
Pendidikan agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam,yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ini dapat memahami, menghayati,mengamalkan ajaran agama Islam sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akherat (Zakiyah Darajat, dkk, 1992: 86).
Crow (dalam Supriyatno, 2001) mengatakan bahwa pendidikan diinterpretasikan dengan makna untuk mempertahankan individu dengan kebutuhan-kebutuhan yang senantiasa bertambah dan merupakan suatu harapan untuk dapat mengembangkan diri agar berhasil serta untuk memperluas, mengintensifkan ilmu pengetahuan dan memahami elemen-elemen yang ada disekitarnya. Pendidikan juga mencakup segala perubahan yang terjadi sebagai akibat dari partisipasi individu dalam pengalaman-pengalaman dan belajar.
Pendidikan merupakan pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan perilaku, pikiran dan sikapnya (Thompson, 1993). Sedangkan Darnelawati (1994) berpendapat bahwa pendidikan formal adalah pendidikan di sekolah yang berlangsung secara teratur dan bertingkat mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat. Tujuan pendidik adalah untuk memperkaya budi pekerti, pengetahuan dan untuk menyiapkan seseorang agar mampu dan trampil dalam suatu bidang pekerjaan tertentu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.
Akhlak dapat ditafsirkan sebagai budi pekerti dan sifat-sifat mulia. Setiap orang seharusnya mempunyai akhlak atau sifat-sifat yang baik dan mulia karena dengan berbudi pekerti manusia akan dapat hidup dengan aman dan bahagia dan sudah semestinya kebahagiaan perlu dimiliki oleh semua orang kerana keadaan itu adalah fitrah manusia itu sendiri. Rangkaian di antara iman, ilmu, akhlak dan amal mestilah ada pada semua manusia karena keempat perkara tersebutsaling berkaitan di antara satu sama lain. Akhlak amat penting kerana Rasulullah s.a.w. sendiri telah diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Hal ini telah dinyatakan dalam sabda Rasulullah s.a.w. yang artinya: "Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (Riwayat Bukhari).
Berdasarkan hal ini, jelaslah bahwa ketinggian ilmu tidak memadai kerana terdapat ramai orang yang berilmu tetapi akhlaknya rendah. Begitu juga dengan iman dan amal. Keempat-empat perkara ini mesti digabungkan dan hendaklah mempunyai nilai kualiti yang tinggi. Akhlak merupakan salah satu ajaran asas agama Islam sehingga Rasulullah s.a.w. pernah mendefinisikan agama itu dengan akhlak yang baik.
Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti dan hasil daripada ibadah kepada Allah S.W.T. seperti solat, puasa, zakat dan haji. Hal ini dijelaskan dalam al-Quran seperti berikut:
Firman Allah S.W.T.:

                        

Artinya : ”Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Surat Al-‘Ankabut :45)
Peranan akhlak dalam menentukan pribadi seseorang tidak boleh diragukan lagi. Proses pembentukannya adalah selaras dengan perkembangan jiwa seseorang itu. Untuk membentuk akhlak yang baik memang sulit tetapi setiap Muslim itu seharusnya berusaha ke arah membentuk kesempurnaan akhlak seperti yang dituntut oleh agama Islam.
Sedangkan Akhlak menurut Muhammad bin ‘Ilaan Ash-Shadieqy (1971: 76) adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa. Dari jiwa itu timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah(tanpa ada dorongan dari orang lain). Al-Qurthuby (1913) berpendapat bahwa akhlak adalah Suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab kesopanannya disebut akhlak, karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadiannya.
Dari konsep kedua kata di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan akhlak adalah proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman lebih tinggi mengenai adab kesopanan dalam perbuatan yang dilakukan.

2. Konsep Remaja
Sebenarnya masa remaja adalah masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menuju dewasa. Atau dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai masa dewasa. Anak-anak jelas kedudukannya, yaitu yang belum dapat hidup sendiri, belum matang dari segala segi, tubuh masih kecil, organ-organ belum dapat menjalankan fungsinya secara sempurna, kecerdassan, emosi dan hubungan sosial belum selesai pertumbuhannya. Hidupnya masih bergantung pada orang dewasa, belum dapat diberi tanggng jawab atas segala hal. Dan mereka menerima kedudukan seperti itu.
Karena itulah maka ahli-ahli jiwa tidak mempunyai kata sepakat tentang betapa panjangnya masa remaja tersebut, maka mereka hanya sepakat dalam penentuan permulaan masa remaja, yaitu dengan dimulainya kegoncangan, yang ditandai dengan datangnya Haid (menstruasi) pertama bagi wanita, dan Mimpi pada pria.kejadian yang menentukan ini tidak sama antara satu anak dengan anak yang lainnya, ada yang dimulai pada umur 12 Tahun, tapi ada pula yang baru berumur 11 Tahun. Tapi secara rata-rata terjadi pada umur 13 Tahun sebagai permulaan masa remaja (Adolesen) sedangkan akhir masa remaja itu, bermacam-macam seperti yang kita terangkan diatas , ahli-ahli tidak sepakat dalam hal ini. Ada yang mengatakan berumur 15 tahun, ada pula yang mengatakan berumur 18 tahun, bahkan dalam bidang kemantapan beragama umur itu oleh ahli jiwa di perpanjang lagi sampai 24 atau 25 tahun. Batas-batas umur yang bermacam-macam itu baik yang berumur 15, 18, 21, maupun 25 tahun adalah wajar dan cocok bagi masing-masing masyarakat,sesuai dengan nilai dan ukurannya sendiri.
Kendatipun bermacam-macam umur yang di tentukan sebagai batas yang menentukan masa remaja, namun pada umumnya para ahli mengambil patokan ± antara 13-21 tahun adalah umur remaja.
Sedang yang khususnya mengenai perkembangan jiwa agama dapat diperpanjang menjadi ± 13-24 tahun.
Masa remaja adalah masa penuh masa kegoncangan jiwa, berada dalam masa peralihan diatas jembatan goyang, yang menghubungkan masa kanak-kanak yang penuh keberuntungan, dengan masa dewasa yang matang dan berdiri sendiri.
Kendatipun masa remaja itu tidak ada batas umur yang tegas, yang apat ditujukan, namun dapat kita kira-kirakan dan perhitungkan sesuai dengan masyarakat lingkugan remaja itu sendiri. Kendtipun besar ataupun kecil kegoncangan yang dialami oleh remaja-remaja dari berbagai tingkat masyarakat, namun dapat dipastikan bahwa kegoncangan remaja itu ada terjadi. Dalam kondisi jiwa yang demikian, agama mempunyai peranan penting dalam kehidupan remaja. Memang, kadang-kadang kita melihat keyakinan remaja terombang ambing, tidak tetap, bahkan kadang-kadang berubah, sesuai dengan perubahan perasaan yang dilaluinya. Suatu hal yang tidak bisa disangkal, adalah bahwa remaja-remaja itu secara potensial telah beragama.
Masa remaja sebagai periode perkembangan yang paling penting bagi individu pada kenyataannya merupakan suatu periode yang sarat dengan perubahan dan rentan munculnya masalah. Meskipun demikian adanya pemahaman yang baik serta penanganan yang tepat terhadap remaja merupakan faktor penting bagi keberhasilan remaja di kehidupan selanjutnya, mengingat masa ini merupakan masa yang paling menentukan. Selain itu perlu adanya kerjasama dari remaja itu sendiri, orang tua, guru dan pihak-pihak lain yang terkait agar perkembangan remaja di bidang pendidikan terutama pendidikan akhlak dan bidang-bidang lainnya dapat dilalui secara terarah, sehat dan bahagia.

3. Karakteristik Masa Remaja
Sebagai periode yang paling penting, masa remaja ini memiliki karakterisitik yang khas jika dibanding dengan periode-periode perkembangan lainnya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:
a. Masa remaja adalah periode yang penting
Periode ini dianggap sebagai masa penting karena memiliki dampak langsung dan dampak jangka panjang dari apa yang terjadi pada masa ini. Selain itu, periode ini pun memiliki dampak penting terhadap perkembangan fisik dan psikologis individu, dimana terjadi perkembangan fisik dan psikologis yang cepat dan penting. Kondisi inilah yang menuntut individu untuk bisa meynesuaikan diri secara mental dan melihat pentingnya menetapkan suatu sikap, nilai-nilai dan minat yang baru.

b. Masa remaja adalah masa peralihan
Periode ini menuntut seorang anak untuk meninggalkan sifat-sifat kekanakkanakannya dan harus mempelajari pola-pola perilaku dan sikap-sikap baru untuk menggantikan dan meninggalkan pola-pola perilaku sebelumnya. Selama peralihan dalam periode ini, seringkali seseorang merasa bingung dan tidak jelas menangani peran yang dituntut oleh lingkungan. Misalnya, pada saat individu menampilkan perilaku anak-anak maka mereka akan diminta untuk berperilaku sesuai dengan usianya, namun pada kebalikannya jika individu mencoba untuk berperilaku seperti orang dewasa sering dikatakan bahwa mereka berperilaku terlalu dewasa untuk usianya.



c. Masa remaja adalah periode perubahan
Perubahan yang terjadi pada periode ini berlangsung secara cepat, perubahan fisik yang cepat membawa konsekuensi terjadinya perubahan sikap dan perilaku yang juga cepat. Terdapat lima karakteristik perubahan yang khas dalam periode ini yaitu, (1) peningkatan emosionalitas, (2) perubahan cepat yang menyertai kematangan seksual, (3) perubahan tubuh, minat dan peran yang dituntut oleh lingkungan yang menimbulkan masalah baru, (4) karena perubahan minat dan pola perilaku maka terjadi pula perubahan nilai, dan (5) kebanyakan remaja merasa ambivalent terhadap perubahan yang terjadi.
d. Masa remaja adalah usia bermasalah
Pada periode ini membawa masalah yang sulit untuk ditangani baik bagi anak laki-laki maupun perempuan. Hal ini disebabkan oleh dua lasan yaitu : pertama,pada saat anak-anak paling tidak sebagian masalah diselesaikan oleh orang tua atau guru, sedangkan sekarang individu dituntut untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kedua, karena mereka dituntut untuk mandiri maka seringkali menolak untuk dibantu oleh orang tua atau guru, sehingga menimbulkan kegagalan-kegagalan dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
e. Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri
Pada periode ini, konformitas terhadap kelompok sebaya memiliki peran penting bagi remaja. Mereka mencoba mencari identitas diri dengan berpakaian, berbicara dan berperilaku sebisa mungkin sama dengan kelompoknya. Salah satu cara remaja untuk meyakinkan dirinya yaitu dengan menggunakan simbol status,seperti mobil, pakaian dan benda-benda lainnya yang dapat dilihat oleh orang lain.
f. Masa remaja adalah usia yang ditakutkan
Masa remaja ini seringkali ditakuti oleh individu itu sendiri dan lingkungan.Gambaran-gambaran negatif yang ada dibenak masyarakat mengenai perilaku remaja mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan remaja. Hal ini membuat para remaja itu sendiri merasa takut untuk menjalankan perannya dan enggan meminta bantuan orang tua atau pun guru untuk memecahkan masalahnya.

g. Masa remaja adalah masa yang tidak realistis
Remaja memiliki kecenderungan untuk melihat hidup secara kurang realistis,mereka memandang dirinya dan orang lain sebagaimana mereka inginkan dan bukannya sebagiai dia sendiri. Hal ini terutama terlihat pada aspirasinya, aspiriasi yang tidak realitis ini tidak sekedar untuk dirinya sendiri namun bagi keluarga,teman. Semakin tidak realistis aspirasi mereka maka akan semakin marah dan kecewa apabila aspirasi tersebut tidak dapat mereka capai.
h. Masa remaja adalah ambang dari masa dewasa
Pada saat remaja mendekati masa dimana mereka dianggap dewasa secara hukum,mereka merasa cemas dengan stereotype remaja dan menciptakan impresi bahwa mereka mendekati dewasa. Mereka merasa bahwa berpakaian dan berperilaku seperti orang dewasa sringkali tidak cukup, sehingga mereka mulai untuk memperhatikan perilaku atau simbol yang berhubungan dengan status orang dewasa seperti merokok, minum, menggunakan obat-obatan bahkan melakukan hubungan seksual.

4. Faktor yang mempengaruhi Akhlak Remaja
1. Faktor Keluarga
Keluarga merupakan kunci utama dari pembentukan akhlak remaja. Menurut Zuhairini dkk (1995: 182) bahwa pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama, tempat anak didik pertama-tama menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tua atau anggota keluarga lainnya. Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik pada usia yang masih muda, karena pada usia ini anak lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikan (orang tua dan anggota lain).
2. Kurangnya pendidikan dan pemahaman terhadap ajaran agama.
Sebagai model seharusnya orang tua memberikan contoh yang terbaik bagi anak dalam keluarga. Sikap dan perilaku orang tua harus mencerminkan akhlak yang mulia. Oleh karena itu Islam mengajarkan kepada orang tua agar selalu mengajarkan sesuatu yang baik-baik saja kepada anak mereka.
Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq Said bin Mansur yang terdapat dalam buku Abdullah Nasikh Ulwani (1999: 186)
Pembentukan budi pekerti yang baik adalah tujuan utama dalam pendidikan Islam. Karena dengan budi pekerti itulah tercermin pribadi yang mulia, sedangkan pribadi yang mulia itu adalah pribadi yang utama yang ingin dicapai dalam mendidik anak dalam keluarga. Namun sayangnya, tidak semua orang tua mampu melakukannya. Buktinya dalam kehidupan di masyarakat sering ditemukan anak-anak nakal dengan sikap dan perilaku yang tidak hanya terlibat dalam perkelahian, tetapi juga terlibat dalam pergaulan bebas,perjudian, pencurian, narkoba, dan sebagainya.
3. Faktor Lingkungan Sekitar
Lingkungan sekitar tempat remaja tumbuh dan menyerap segala bentuk aktifitas yang dilakukan. Apabila lingkungan tempat tumbuh itu sudah tercemar oleh hal-hal negatif yang bisa merusak akhlak remaja, maka tentu akhlak remaja tersebut tidak akan menjadibaik karena pengaruh dari lingkungan sekitarnya.
4. Faktor Teman Sebaya.
Manusia dikenal dengan siapa dia bergaul atau berteman.Maka teman sebaya adalah cermin dari diri kita sendiri.Remaja akan mudah dipengaruhi oleh teman sebaya, karena yang sering mereka temui dalam kegiatan sehari-hari adalah teman sebaya. Selain itu, teman sebaya merupakan tempat para remaja berkeluh kesah (curhat), saling berbagi pengalaman
5. Faktor Media Massa atau tekhnologi.
Dewasa ini tekhnologi menjadi tren atau sebuah mode,orang yang tidak mengenal tekhnologi dianggap gaptek. Dan tekhnologi ini juga sangatberpengaruh terhadap akhlak remaja.
5. Pengaruh Pendidikan Agama Terhadap Akhlak
Dalam Pendidikan Agama Islam, pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar untuk mengembangkan intelektualitas dalam arti bukan hanya meningkatkan kecerdasan saja, melainkan juga mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia, yang mencakup aspek keimanan, moral atau mental, prilaku dan sebagainya.
Pembinaan kepribadian atau jiwa utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan khususnya pendidikan. Sasaran yang ditempuh atau dituju dalam pembentukan kepribadian ini adalah kepribadian yang memiliki akhlak yang mulia dan tingkat kemulian akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan.
Dalam pembentukan akhlak siswa, hendaknya setiap guru menyadari bahwa dalam pembentukan akhlak sangat diperlukan pembinaan dan latihan-latihan akhlak pada siswa bukan hanya diajarkan secara teoritis, tetapi harus diajarkan ke arah kehidupan praktis.
Agama sebagai unsur esensi dalam kepribadian manusia dapat member peranan positif dalam perjalanan kehidupan manusia, selain kebenarannya masih dapat diyakini secara mutlak.
Dalam hal pembentukan akhlak remaja, pendidikan agama mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupannya. Pendidikan agama berperan sebagai pengendali tingkah laku atau perbuatan yang terlahir dari sebuah keinginan yang berdaran emosi. Jika ajaran agama sudah terbiasa dijadikannya sebagai pedoman dalam kehidupannya sehari-hari dan sudah ditanamkannya sejak kecil, maka tingkah lakunya akan lebih terkendali dalam menghadapi segala keinginankeinginannya yang timbul.
6. Urgensi Pendidikan Akhlak Bagi Remaja
Urgensi dari pendidikan akhlak dalam Islam adalah untuk membentuk manusia yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku perangai, bersifat bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur dan suci. Dengan kata lain pendidikan akhlak bertujuan untuk melahirkan manusia yang memiliki keutamaan (al-fadhilah). Berdasarkan tujuan ini, maka setiap saat, keadaan, pelajaran, aktifitas, merupakan sarana pendidikan akhlak. Dan setiap pendidik harus memelihara akhlak dan memperhatikan akhlak di atas segala-galanya.
Barmawie Umary dalam bukunya materi akhlak menyebutkan bahwa tujuan berakhlak adalah hubungan umat Islam dengan Allah SWT dan sesama makhluk selalu terpelihara dengan baik dan harmonis.
Sedangkan Omar M. M.Al-Toumy Al-syaibany, tujuan akhlak adalah menciptakan kebahagian dunia dan akhirat, kesempurnaan bagi individu dan menciptakan kebahagian, kemajuan, kekuataan dan keteguhan bagi masyarakat.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan akhlak pada prisnsipnya adalah untuk mencapai kebahagian dan keharmonisan dalam berhubungan dengan Allah SWT, di samping berhubungan dengan sesama makhluk dan juga alam sekitar, hendak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna serta lebih dari makhluk lainnya.
Pendidikan agama berkaitan erat dengan pendidikan akhlak, tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa pendidikan akhlak dalam pengertian Islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama. Sebab yang baik adalah yang dianggap baik oleh agama dan yang buruk adalah apa yang dianggap buruk oleh agama. Sehingga nilai-nilai akhlak, keutamaan akhlak dalam masyarakat Islam adalah akhlak dan keutamaan yang diajarkan oleh agama.











BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
1. Konsep Pendidikan Akhlak
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.
Akhlak dapat ditafsirkan sebagai budi pekerti dan sifat-sifat mulia. Setiap orang seharusnya mempunyai akhlak atau sifat-sifat yang baik dan mulia karena dengan berbudi pekerti manusia akan dapat hidup dengan aman dan bahagia dan sudah semestinya kebahagiaan perlu dimiliki oleh semua orang kerana keadaan itu adalah fitrah manusia itu sendiri. Rangkaian di antara iman, ilmu, akhlak dan amal mestilah ada pada semua manusia karena keempat-empat perkara tersebut saling berkaitan di antara satu sama lain.
Dari konsep kedua kata di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan akhlak adalah proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman lebih tinggi mengenai adab kesopanan dalam perbuatan yang dilakukan.
2. Konsep Remaja
Masa remaja sebagai periode perkembangan yang paling penting bagi individu pada kenyataannya merupakan suatu periode yang sarat dengan perubahan dan rentan munculnya masalah. Meskipun demikian adanya pemahaman yang baik serta penanganan yang tepat terhadap remaja merupakan faktor penting bagi keberhasilan remaja di kehidupan selanjutnya, mengingat masa ini merupakan masa yang paling menentukan. Selain itu perlu adanya kerjasama dari remaja itu sendiri, orang tua, guru dan pihak-pihak lain yang terkait agar perkembangan remaja di bidang pendidikan terutama pendidikan akhlak dan bidang-bidang lainnya dapat dilalui secara terarah, sehat dan bahagia.


3. Karakteristik Masa Remaja
a. Masa remaja adalah periode yang penting
b. Masa remaja adalah masa peralihan
c. Masa remaja adalah periode perubahan
d. Masa remaja adalah usia bermasalah
e. Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri
f. Masa remaja adalah usia yang ditakutkan
g. Masa remaja adalah masa yang tidak realistis
h. Masa remaja adalah ambang dari masa dewasa

4. Faktor yang mempengaruhi akhlak remaja
1. Faktor Keluarga
2. Kurangnya pendidikan dan pemahaman terhadap ajaran agama
3. Faktor Lingkungan Sekitar
4. Faktor Teman Sebaya
5. Faktor Media Massa atau tekhnologi

5. Pengaruh Pendidikan Agama terhadap Akhlak Remaja
Dalam hal pembentukan akhlak remaja, pendidikan agama mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupannya. Pendidikan agama berperan sebagai pengendali tingkah laku atau perbuatan yang terlahir dari sebuah keinginan yang berdaran emosi. Jika ajaran agama sudah terbiasa dijadikannya sebagai pedoman dalam kehidupannya sehari-hari dan sudah ditanamkannya sejak kecil, maka tingkah lakunya akan lebih terkendali dalam menghadapi segala keinginankeinginannya yang timbul.

6. Urgensi Pendidikan Akhlak bagi Remaja
Urgensi dari pendidikan akhlak dalam Islam adalah untuk membentuk manusia yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku perangai, bersifat bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur dan suci. Dengan kata lain pendidikan akhlak bertujuan untuk melahirkan manusia yang memiliki keutamaan (al-fadhilah). Berdasarkan tujuan ini, maka setiap saat, keadaan, pelajaran, aktifitas, merupakan sarana pendidikan akhlak. Dan setiap pendidik harus memelihara akhlak dan memperhatikan akhlak di atas segala-galanya.

B. SARAN
Pembahasan pendidikan akhlak remaja dalam makalah yang kami susun memang terbatas. Oleh karena itu, pembaca hendaknya mecari referensi yang lain untuk melengkapi informasi tentang urgensi pendidikan akhlak bagi remaja. Dan kami pun senantiasa menunggu saran dari para pembaca, khususnya dosen mata kuliah TPKI yang tujuannya tiada lain untuk perbaikan penyusunan makalah selanjutnya yang lebih baik.



















DAFTAR PUSTAKA


Atkinson & Atkinson. 1998. Pengantar Psikologi, edisi kesebelas. Batam : Interaksara.

Hasbullah. 2005. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, cetakan ke-4. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Daradjat, Zakiah, dkk. 1992. Ilmu Pendidikan Islam, cetakan ke-2.Jakarta:Bumi Aksara.

AR, Zahruddin. 2004. Pengantar Ilmu Akhlak, cetakan ke-1. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Ardani, Moh. 2005. Akhlak Tasawuf cetakan ke-2. PT. Mitra Cahaya Utama.

Uhbiyati, Nur. 2008. Ilmu Pendidikan Islam cetakan ke-2 .Bandung: CV. Pustaka Setia

pendidikan.infogue.com/

www.muslimdelft.nl/.../pendidikan-akhlak-antara-islam-dan-globalisasi

risalahnur.com/

www.mail-archive.com/milis...com/msg00576.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar